Rabu, 31 Desember 2014

Surat utk suamiku

Assalamualaykum pangeran surga ku
Aku bertemu dg mu karena ALLAH....menikah denganmu karena ALLAH.... hidup bersamamu sampai akhir hayatku pun karena ALLAH.
Meski tiap saat aku mengucapkan kata cinta padamu, itu masih tak cukup utk mengungkapkan smuanya. Rasa sayangku, rasa cintaku, pengabdianku padamu.
Sayangku, kau sempurna sebagai suami. Kau melaksanakan smua kewajibanmu dg sempurna
Kau menjadi imam disetiap detik rumah tangga kita
Kau menyayangiku, mengasihiku, melayaniku hingga aku mampu merasakan indahnya surga dunia.
Hanya satu hal yg masih mengusik mimpiku, meresahkan hidupku. Kebiasaanmu merokok. Sungguh sayangku, jangan kau biasakan dirimu menghisab racun itu. Aku ingin kau hidup lebih lama. Bersamaku, bersama anak2 dan cucu2 kita. Berhentilah tak hanya demi dirimu, tp demi aku dan keluarga kita. Tak maukah kau menggendong anak2 kita, melihat mereka tumbuh. Tak maukah kau menua bersamaku??
Sungguh aku ingin kau sehat selalu. Maka hentikanlah kebiasaanmu itu, tak hanya d depanku namun juga d depan Allah. Meskipun aq tak melihat, Allah ada dimana2, melihat smua perbuatanmu.
Aku sangat menyayangimu hingga tak mampu membayangkan betapa berat hidup tanpamu...betapa aku ingin mendampingimu hingga nanti.
Semoga kau mengerti sayangku
Salam cintaku untuk suamiku...sigaring nyowo

Sabtu, 27 Desember 2014

Hargailah wanitamu

Kau takkan pernah tau berapa lamau kalian akan bersama2.
Tau kah kau bila wanita tercipta sebagai tulang rusuk??
Yang bila kau paksa meluruskannya ia akan patah
Namun apabila kau biarkan saja maka ia akan tetap bengkok
Kau harusnya tau itu
Jangan biarkan ia menangis
Kalaupun ia harus menangis seharusnya itu bukan karnamu
Peluklah ia karena hanya itu yg ia butuhkan

Rabu, 24 Desember 2014

Butuh pengakuankah?

Okey akan saya ceritakan tentang pengalaman saya bersama dengan teman kerja yg rada aneh.
Bgini critanya. Dia cantik, pinter, dan boleh dibilang menawan. Hampir smua teman laki2 bahkan perempuan menyukainya. Termasuk saya pada awalnya. Apa?? Pada awalnya?? Berarti skrg tidak??
Ya sekarang TIDAK. Mmm lebih tepatnya saya merasa tidak nyaman. Kenapa?? Banyak hal yg saya rasa tdk cocok dg saya. Misalnya saja hubungannya dengan para lelaki di kantor terlalu berlebihan dan membuat saya risih. Ada kontak fisik antara lelaki dan perempuan yg berlebihan bagi hubungan pertemanan. Saya tdk bilang dia selingkuh, tp hanya berlebihan saja dalam berekspresi. Dan pada kenyataannya sang suami pun cemburu dan berakhir dg minggat sampai pada saat ini sih sudah lebih dr 3 bulan. Hmmm brarti bukan krn saya yg berlebihan menilai..ternyata suaminya pun punya penilaian yg sama. Terlepas apapun masalah mreka sbenarnya.
Lalu saya merasa ada keanehan ketika dia mengambil alih hampir beberapa pkerjaan saya. Apa2an ini? Kami kan teman. Hah teman?? Apakah masih bisa dibilang teman bila sperti ini jadinya??
Entahlah
Saya merasa tak mengerti
Apakah saya iri??
Hmmm mungkin
Atau apakah saya cemburu??
Mungkin juga
Tapi yg pasti saya rasa saya harus menjaga jarak dg nya
Bukan agar ini itu
Tapi agar hati saya tak lagi terluka akan smua perbuatannya
Saya harus melakukan "penyelamatan diri"
Cukup sampai disini

Senin, 29 September 2014

Wanita bekerja

Bagi lelaki belum menikah, melihat perempuan mandiri, yang mampu melakukan hal2 kecil hingga hal besar seorang diri mungkin itu terlihat mempesona. Melihat seorang wanita yg cerdas, mampu memimpin sebuah kegiatan, memberi ide2 cemerlang dan sukses di dalam karir dan pendidikan mungkin akan merasa betapa beruntung laki2 yg bisa memilikinya.
Tapi ternyata semua itu akan sirna ketika berada dalam sebuah ikatan pernikahan. Sudah ditakdirkan seorang laki2 itu dominan, memimpin, meletakkan dirinya jauh diatas wanita.
Sering saya katakan, betapapun hebatnya seorang wanita diluar sana, secemerlang apapun kariernya, ketika berada dirumah, ia tetap harus menjadi makmum lelaki. Menjadi pengikut. Ini memperlihatkan bahwa apapun yg tengah kau genggam sekarang meskipun itu emas dan berlian, lepaskanlah...letakkanlah ketika kau berada dirumah. Peganglah alat masak..genggamlah sapu.
Begitulah menurut saya bahwa perempuan bekerja tetaplah seorang istri yg harus patuh pada suami. Setinggi apapun jabatannya, ia tetaplah bawahan bagi suaminya

Namun tentunya hal ini tdk menjadikan seorang laki2 otoriter dan semena mena memperlakukan wanitanya.

Apabila ia benar mencintaimu, ia akan meletakkan harga dirinya untuk memakaikan sepatumu, ia akan membungkuk menghargaimu, ia akan memelukmu mesra meski kau marah2 dan ngomel.

Jumat, 04 Juli 2014

menanti dua garis di TestPack

Telat sehari...dua hari...10 hari..12 hari. Oke bolehkan aku berharap bahwa aku hamil??
Tanda-tanda kehamilan lainpun aku rasakan, seperti mual, tak napsu makan, perut membuncit, pusing sampe sakit 3 hari. Badan rasanya gak karuan. Semua kujalani dengan ikhlas tanpa nggrundel apalagi ngomel. Tiap menit aku cek celana dalam apakah ada darah keluar. Oke semua lancar. Mama mertua heboh karena 2 minggu tak bisa makan karena mual. Beliau bertanya padaku apakah aku telat. Dengan enteng kujawab "iya". Oke kehebohan pun makin parah. Aku gak boleh ngapa-ngapain. Suruh cek ini itu di SPOG. Mengingat dan menimbang 2 bulan lalu berturut-turut aku semangat ke SPOG saat telat seminggu. Hasilnya?? Cukup membuatku gak minat ngapa-ngapain karena USG nya gak kliatan apa-apa. Maka males banget kalo suruh ke dokter. Aku janji ke dokter stelah telat 2 minggu. Dan tibalah dihari ke 13. Aku memberanikan diri untuk TestPack. Belum apa-apa udah mules duluan. Maleeesss takuuuut campur aduk deh. Tapi pengen tau bangeeeet. Huffffft voilaaaaaaa sip deh. SATU GARIS. Hiks nangis deh langsung. Mewek-mewek kayak di sinetron. Lemes. Gak pengen ngapa-ngapain. Kecewa dan galau. Gagal untuk kesekian kali. Dan keesokan harinya taraaaaaaa......mens. huffft ibu adalah orang pertama yg kuberitahu. Diomelin?? Jelaaaaaassss. "Makanya jangan banyak kegiatan...banyak gerak...banyak kerjaan...kayak bgitu jadinya...kamu kalo disuruh diem susah banget...bla...blaa...blaaa...."
Telfon aku matikan lalu mewek lagi. Kali ini lebih kenceng. Kenapa jadi aku yang salah?? Kan Allah yang belum kasih rejeki itu buat kita...kok bisa aku yang salah??? Gimana ceritanya?
Hmmmmm lama aku merenung. Ibuku mungkin kecewa karena kepinginan utk punya cucu terpending lagi. Mungkim emang bener aku harus mengurangi kegiatanku yang gila banget.
Sabar. Itu kuncinya. Sambil belajar. Banyak baca. Allah memberi kami waktu untuk belajar lebih banyak. Lebih siap. Lebih tau. Untuk menjadi orang tua yang baik bahi anak2 kami nanti. Bismillah ayooo sayaaaaang semangaaaat.
Trimakasih Ya Rabb. Disaat KAU memberiku ujian seperti ini hikmahnya adalah...jadi tau bahwa suamiku hebat. Dia gak menunjukkan kecewanya didepanku...itu sangat membantuku. Aku bangga padamu sayang. Mmmmuaaaah
Lalu hikmah berikutnya adalah mama mertuaku itu super sabar dan selalu support. Makasih buat ibuku tercinta...jadi tau bahwa untuk jadi ibu itu bukan hal mudah. Love you mom
Pokoknya Arina harus semangaaaaaaat
Buat para wanita yang sedang menantikan buah hati ditengah2 kehidupan pernikahannya saya ucapkan semangaaaat dan jangan menyerah. Bagi yang sudah punya buah hati, teruslh belajar utk menjadi orang tua terbaik...hingga mampu menelurkan buah hati yang sholeh dan sholihah. Amal jariyah yang do'a nya bisa menolong kita dari siksa kubur dan menjauhkan kita dari api neraka. Subhanallah

Selasa, 07 Januari 2014

buat calon suamiku, Taufan Aridita Krisnanta

Suamiku sayang..... Semoga engkau selalu amanah menjaga keluarga kita dalam ridlo Allah. Saling menyayangi dan berjalan dalam kebenaran Sungguh Allah yang memilihmu sebagai imamku Aku mempercayaimu. Akan kudampingi engkau menjalani hidup untuk mempersiapkan tempat terbaik di surga Semoga Allah selalu memberi kasih sayang lindungan dan rahmat NYA pada keluarga kita. Amin

lama tersimpan di note. since 2012

Sekian lama aku berjalan Duduk diam dan bertahan Tak taukah kau betapa tingginya harapan Betapa banyak kenangan kau hadirkan Ya aku lelah harus sekian lama menunggumu dalam ketidak pastian

bisa apa


Kalaulah semua harus rumit
Bila tak ada celah bagiku untuk menyederhanakannya
Apakah semua akan menguap begitu saja?
Ketika kata maaf tak cukup menentramkan
Menyerahpun takkan bisa melanjutkan pun tak mampu
Bginilah manusia
Dengan segala keterbatasannya
Bisa apa?
Hanya termenung tanpa berbuat apapun
Karena semua jalan telah dilalui dan buntu.
Haruskah meruntuhkan dinding kebuntuan?
Itupun tak menjamin jalan baru akan ada dibalik tembok yg tinggi